haid

Haid

Posted on

Haid dijalani seorang muslimah pada masa-masa tertentu, dan bisa dialami setiap bulannya jika sudah tiba tanggal dimana seorang muslimah akan mengalami masa menstruasi. Dalam hal ini biasanya muslimah mendapati pertama kali masa haid pada usia sembilan tahun, dan merupakan usia terendah/minimal.

Jika seorang muslimah di usia sembilan tahun sudah menjalani masa menstruasi, maka ia sudah termasuk memasuki usia baligh. Sedangkan usia maksimal muslimah mendapati masa haid biasanya pada usia lima puluh tahun,

karena di usia tersebut muslimah sudah mengalami monopause atau terhentinya masa produktif rahim. Masamenstruasi haid bisa terjadi di setiap bulan. Dan bahkan ada juga yang dua, bahkan tiga bulan sekali, atau lebih dari pada itu.

Untuk jumlah hari masa haid, tidaklah sama, tergantung pada setiap kebiasaan muslimah mendapati masa menstruasitersebut. Biasanya wanita yang mengalami haid putus-putus disebabkan karena beberapa hal.

Pengertian haid

Haid ialah darah yang keluar dari dinding rahim seorang wanita jika sudah menginjak usia baligh. Dan dialami pada masa-masa tertentu, biasanya paling cepat satu hari satu malam dan batas waktu maksimal masa menstruasi adalah lima belas hari. Untuk yang normal sering dialami oleh wanita ialah enam-tujuh hari.

Kemudian untuk masa suci dari menstruasi yaitu tiga belas-lima belas hari. Dan yang paling lama tidak terbatas waktunya. Sedangkan untuk wanita normalnya mengalami masa suci sekitar dua puluh tiga-dua puluh empat hari.

Untuk wanita hamil, dengan izin Allah swt. darah menstruasi berubah menjadi sumber makanan bagi si bayi yang berada dalam kandungan. Maka dari itu wanita yang sedang hamil tidak mendapati masa menstruasi. Ketika setelah melahirkan Allah swt. merubah kembali si darah haid menjadi air susu yang merupakan makanan bagi bayi yang telah lahir.

Wanita dalam menjalani masa menstruasihaid dikelompokkan menjadi tiga yaitu :

  1. Wanita yang baru mendapati masa menstruasi
  2. Wanita yang sudah biasa menjalani masa menstruasi
  3. Wanita yang mengeluarkan darah secara terus menerus yang sering dengan disebut darah istihadhoh
Baca Juga:  Alamat Situs Dewasa Pada Android

Wanita yang baru menjalani masa haid

Wanita yang baru menjalani menstruasi Ialah wanita yang baru pertama kali mendapati keluarnya darah menstruasi, maka disaat juga ia berkewajiban untuk meninggalkan ibadah shalat, puasa, serta berjima’ sampai pada berakhirnya masa menstruasidan datangnya masa suci.

Jika telah selesai pada masa satu hari satu malam atau lima belas hari lamanya, lalu ia berkewajiban untuk mandi dan mendirikan shalat.

Dan seandainya melebihi dari masa paling lama masa menstruasi yaitu lima belas hari darah masih keluar maka di hari berikutnya dianggap sebagai darah penyakit atau istihadhoh.

Dan wanita yang sedang dalam keadaan menstruasi ia dilarang untuk mengerjakan shalat dan ibadah lainnya.

Wanita yang biasa menjalani masa haid

Wanita yang demikian biasanya sudah pernah mengalami masa-masa menstruasi di bulan-bulan sebelumnya, dan terdapat hari-hari tertentu pada setiap bulannya.

Namun jika darah yang dikeluarkan berwarna kekuning-kuningan atau keruh setelah masa menstruasimaka ia tidak perlu menghitungnya sebagai darah haid.

Tetapi jika darah kekuningan atau keruh keluar pada masa haid maka darah tersebut dihukumi sebagai darah haid. Sebagian para ulama berpendapat bahwa wanita yang menjalani masa menstruasilebih dari biasanya yang ia jalani di bulan-bulan sebelumnya,

maka ia diwajibkan untuk bersuci selama tiga hari setelah itu mengerjakan mandi dan mendirikan shalat serta puasa. Terkecuali terjadi berulang-ulang, dua atau tiga kali. Sehingga masa haid berubah menjadi masa istihadhoh. Ini merupakan pendapat yang jelas dan kuat.

Wanita yang mengalami istihadhoh

ialah Wanita yang mengeluarkan darah secara terus menerus melebihi kebiasaan masa menstruasiyang dijalani. Biasanya sebelum mengalami istihadhoh seorang muslimah telah menjalani masa haid dengan jumlah hari tertentu pada setiap bulannya.

Dimasa haid itulah seorang muslimah harus meninggalkan rutinitas ibadah selama menstruasi masih berlangsung. Sekalipun darah yang keluar pada masa menstruasi itu sering berubah warna terkadang hitam atau merah, jika keluarnya terhitung masa haid maka tetap dihukumi sebagai darah haid.

Sedangkan untuk seorang muslimah yang mengalami masa istihadhoh, jka hendak mendirikan shalat, maka ia di wajibkan untuk membersihkan darah haid yang keluar kemudian mengganti pembalut yang baru,

lalu berwudhu yang dilanjutkan dengan mengerjakan shalat. Selain itu, tidak dianjurkan bagi muslimah yang mengalami masa istihadhoh untuk berjima’ dengan suami. Seorang muslimah yang mengalami istihadhoh biasanya memiliki masa haid yang teratur.

Amalan yang dilarang ketika masa haid

Ada beberapa hal yang dilarang bagi seorang muslimah yang sedang mengalami masa menstruasi diantaranya :

Baca Juga:  Cara Mendapatkan Saldo DANA GRATIS

a. Shalat

Seorang muslimah yang sedang menjalani masa menstruasi dilarang mengerjakan ibadah shalat. Dasar hadits Rasululloh saw. yang artinya : “Apabila datang masa haidmu, maka tinggalkanlah shalat.” (Mutttafaqun Alaih).

Dari Ibnu Mundzir : Ulama bersepakat menghapuskan kewajiban shalat bagi muslimah yang sedang mengalami masa menstruasi. Serta tidak diwajibkan untuk mengqadha shalat yang di tinggalkan selama menjalani masa menstruasi.

Hal ini pernah diceritakan oleh A’isyah Ra. : “Kami pernah menjalani masa menstruasi pada zaman Rasululloh saw., maka kami diperintahkan mengqadha puasa tetapi tidak diperintahkan mengqadha shalat.” (Muttafaqun Alaih)

b. Puasa

Muslimah yang sedang dalam keadaan masa menstruasitidak diperkenankan untuk mengerjakan ibadah puasa. Tetapi muslimah berkewajiban untuk mengganti/mengqadha puasa yang ditinggalkan setelah masa menstruasi berhenti. Hal ini sudah pernah diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir.

c. Menyentuh Al-Qur’an

Muslimah yang sedang dalam keadaan menstruasi diperbolehkan membaca Al-Qur’an tetapi tidak diperbolehkan untuk menyentuh mushafnya. Hal ini didasarkan Firman Allah swt ;

“Tidak menyentuh Al-Qur’an, kecuali hamba-hamba yang disucikan”. (QS. Al-Waqi’ah: 79)

d. Berdiam diri di dalam masjid

Dalam hal ini muslimah juga dilarang berdiam diri di dalam masjid ketika sedang dalam keadaan masa menstruasi . Tetapi diperbolehkan jika hanya berlalu saja.

e. Thawaf

Muslimah juga dilarang mengerjakan thawaf ketika sedang dalam keadaan masa menstruasi. Terdapat hadits Rasululloh saw. yang disampaikan kepada Aisyah ra. : “Kerjakanlah sebagaimana orang yang menjalankan ibadah haji, kecuali kamu tidak boleh melakukan thawaf di Ka’bah, sehingga kamu benar-benar dalam keadaan suci”.(Muttafaqun Alaih)

f. Jima’ (berhubungan badan)

Muslimah yang sudah berstatus sebagaimana istri, sedang ia dalam keadaan masa menstruasitidak diperkenankan untuk berjima’ (berhubungan badan). Hingga masa haid selesai. Firman Allah swt. :

“Karena itu, hendaklah kalian menjauhkan diri dari mereka pada waktu haid dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka benar-benar suci.” (QS. Al-Baqarah: 222)

g. Thalak

Haram bagi seorang muslim yang menthalak istri sedang ia tahu, istri sedang dalam keadaan haid. Thalak yang demikian disebut sebagai Thalak bid’ah. Terdapat keterangan tersendiri tentang bab Thalak.

h. Iddah dengan hitungan bulan

Syarat iddah untuk hitungan bulan adalah tidak sedang dalam keadaan menstruasi. Dikarenakan haid dapat membatalkan kesucian. Firman Allah swt :

“Hendaklah istri-istri yang dithalak dapat menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru”. (QS. Al-Baqarah: 228)

Juga dijelaskan dalam QS. At-Thalaq: 4

:”Istri-istri yang tidak mengalami masa menstruasilagi (monopause) di antara kalian, apabila merasa ragu tentang masa iddahnya, maka iddah mereka adalah tiga bulan. Begitu pula wanita-wanita yang tidak haid”.

Demikian pada hukum nifas sama halnya dengan hukum haid. Mengenai hal-hal yang diwajibkan maupun yang diharamkan. Karena darah nifas merupakan darah haid yang tertahan karena proses kehamilan.

Dan keluar sebagai darah nifas hukumnya ditetapkan sama halnya dengan hukum darah haid. Kecuali dalam perhitungan iddah.

i. Bolehnya shalat dan puasa ketika darah haid berhenti

Dalam hal ini seorang muslimah mendapati dirinya sudah dalam keadaan darah haid berhenti, dan belum melaksanakan mandi, maka ia diperbolehkan untuk shalat dan berpuasa, tetapi tidak diperbolehkan selain dari keduanya kecuali setelah melaksanakan mandi.

j. Kafarat bagi muslimah haid bersetubuh

Untuk hal ini jika seorang muslimah yang berkedudukan sebagai seorang istri merasa senang berjima’ dengan suami, maka ia diwajibkan untuk membayar setengah dinar emas murni dalam bentuk apapun, dan diserahkan kepada orang-orang dhuafa.

Tetapi jika ia tidak merasa senang atau tidak mengetahui disetubuhi, maka tidak ada kafarat baginya. Hukum kafarat bagi haid sama hukumnya dengan kafarat pada nifas.

k. Muslimah hamil tidak mengalami haid

Muslimah yang sedang dalam keadaan hamil mengeluarkan darah, maka darah itu tidak dihukumi dengan darah haid, tetapi sebagai darah kotor. Menurut sumber dari Aisyah, jika seorang muslimah dalam keadaan hamil tetapi mengeluarkan darah, maka ia tidak wajib menjalankan ibadah shalat

l. Muslimah yang mengalami istihadhoh

Bagi muslimah yang mengalami istihadhoh ia diwajibkan mandi sama halnya dengan mandi setelah selesai masa menstruasi, kemudian ia berwudhu setiap kali hendak melakasankan shalat.

Untuk hal ini ada pendapat yang mengatakan bahwa muslimah yang sedang istihadhoh diperbolehkan untuk berjima’, dengan melihat warna darah yang dikeluarkan. Biasanya terdapat perbedaan antara darah haid dengan darah istihadhoh.

Dengan begitu muslimah dapat menghitung masa menstruasihaid yang dijalani dengan melihat warna darah, lalu ia dapat menghitung sisa masa setelah selesai menstruasi sebagai hitungan masa istihadhoh.

Hal yang diperbolehkan bagi muslimah yang beristihadhoh yaitu : Menjama’ dua shalat dengan satu kali wudhu.

m. Bila seorang muslimah lupa dengan jumlah hari haid

Apabila seorang muslimah lupa dengan jumlah hari masa ketika haid di bulan sebelumnya, maka ia diperbolehkan untuk mandi setelah jumlah hari haidnya mencapai 6-7 hari, lalu mendirikan shalat dan berpuasa. Akan tetapi tidak diperbolehkan untuk berjima’ dengan suami.

Akhir Kata

Demikianlah artikel ini, semoga dapat menambah wawasan kita berfikir, dan baca juga artikel kami yang lainnya tentang : Macam Macam Thaharah