Etika buang air besar dan kecil
Etika buang air besar dan kecil

Etika buang air besar dan kecil

Posted on

Etika buang air besar dan kecil – Islam membuktikan bahwa begitu besar perhatiannya terhadap hal kebersihan dan kesucian dan merupakan bentuk penghormatan yang diberikan ALLAH kepada manusia sehingga terlihat perbedaannya terhadap hewan. Islam mengharuskan muslim/muslimah jika setelah buang besar ataupun kecil maka ia diharuskan membersihkan dengan air. Agar tidak lagi najis yang melekat pada kemaluan, dubur dan sekitarnya. Supaya yakin bahwa anggota tubunya benar-benar bersih.

dan apabila ia tidak mendapati air, maka hendaknya ia harus bersuci dengan menggunakan kertas, batu atau kain atau segala sesuatu yang suci serta dapat digunakan sebagai alat untuk membersihkan najis.

Etika ketika memasuki WC (Water Clouse)

Etika buang air besar dan kecil – Bagi muslim/muslimah diharapkan untuk menghindarkan diri dari pandangan dan pendengaran orang lain, tidak mengganggu dengan mengeluarkan suara-suara, atau bahkan bau yang tidak enak serta pandangan yang buruk. Serta tidak memperlihatkan auratnya.

Seperti yang dilakukan oleh Rosulullah ketika hendak buang air besar, beliau pergi menjauh hingga tidak terlihat oleh orang lain. Demikian hendaknya muslim/muslimahmenghindarkan diri dari buang air besar pada tempat-tempat yang sering digunakan orang lain sebagai tempat duduk. di jalanan atau bahkan tempat berteduh.

Baca Juga:  Haid

Muslim/muslimah tidak diperbolehkan membuang air kecil pada tempat air yang tidak mengalir (menggenang), bahkan pada air yang mengalir sekalipun, tempat- tempat pemandian terbuka. Dikarenakan akan menimbulkan gangguan serta dosa bagi orang lain. Tetapi jika tempat pemandian tersebut tertutup dan menggunakan bak atau kolam serta terhindar dari najis, maka diperbolehkan.

Doa masuk wc sesuai sunnah

Dalam islam terdapat aturan ketika hendak masuk dan keluar dari WC, yaitu mendahulukan kaki kiri ketika hendak memasuki WC dengan diiringi membaca doa. Dan khusus bagi muslimah tidak diperbolehkan mengangkat bajunya terlalu tinggi, dikarenakan akan terlihat oleh kaum laki-laki.

jika kita berbicara tentang Etika buang air besar dan kecil – maka Demikian juga ketika hendak keluar dari WC hendaknya muslim/muslimah mendahulukan kaki kanan terlebih dahulu. Seperti yang sudah di contohkan oleh Rosulullah saw. Dan kemudian Beliau melanjutkan dengan berdoa. Untuk etika berikutnya yaitu baik muslim/muslimah tidak diperkenankan (dilarang) bersuci dengan menggunakan tangan kanan, melainkan menggunakan tangan kiri. Serta tidak berlebihan dalam bersuci.

Agama islam merupakan Agama ALLAH swt yang penuh dengan kemudahan. Lalu sunnah setelah bersuci yaitu dengan memercikkan air pada kemaluan dan celananya, untuk menghindari gangguan bisikan syetan yang menipu. Seperti terasa masih ada yang keluar dari kemaluan, tetapi ia akan cepat menyadari yang sebenarnya itulah adalah bekas air yang ia percikkan.

Setelah selesai buang air besar sunnah berikutnya adalah mencuci tangan dengan menggunakan sabun, jika tidak ada sabun maka ia harus menyela-nyela tangannya dengan tanah lalu mencuci kembali dengan air. Hal yang demikian merupakan usaha mengikuti jejak yang Rasulullah lakukan.

Penjelasan Buya Yahya tentang Etika buang air besar dan kecil

Menanggalakan segala sesuatu yang terdapat padanya Nama Allah swt.

Seperti yang sudah dicontohkan Rasulullah saw. ketika Beliau hendak memasuki tempat buang air besar (WC) beliau selalu melepaskan cincinnya. Terdapat hadits yang menunjukkan perintah untuk mensucikan segala sesuatu yang terdapat padanya nama Allah dan larangan memasukkan mushaf (Al-Qur’an) ke dalam WC tanpa alasan yang dapat dibenarkan. Adanya alasan diperbolehkannya membawa masuk perhiasan berupa cincin atau kalung yang bertuliskan nama Allah, adanya kekhawatiran jika ditinggalkan di luar akan hilang.

Baca Juga:  Tata Cara Wudhu Yang Benar Untuk Wanita

Cara bersuci dari buang air besar

Untuk bersuci dari hajat atau selesai buang air besar merupakan sebuah keharusan/wajib hukumnya untuk dilakukan. Sedangkan caranya yaitu dengan tiga (3) kali usapan. Baik dengan menggunakan 3 batu, atau 3 kertas dan sejenisnya. Dengan memenuhi tiga (3) usapan merupakan hal yang wajib. (Etika buang air besar dan kecil)

Tetapi jika dengan tiga kali usapan belum didapati kebersihannya maka dapat dilakukan usapan pada keempat dan kelima, sampai pada tingkatan kebersihannya dari selesai buang air besar . Yang demikian itu dimaksudkan adalah istinja’. Dan sunnah daripada istinja’ ini yaitu dengan mengusapnya pada bilangan ganjil seperti tiga kali usapan, bila belum bersih, maka boleh melakukannya dengan tambahan alat pembersihnya berupa batu hingga pada bilangan ganjil.

Orang yang bangun dari tidur atau keluar angin tidak berkewajiban untuk membersihkan dubur dan kemaluan

Sejauh ini tidak terdapat satu ayatpun yang menerangkan tentang kewajiban untuk membasuh dubur dan kemaluan seseorang ketika selesai membuang angin, bahkan didalam hadits pun tidak terdapat keterangan yang demikian. Maka dari itu seseorang yang bangun dari tidur tidak perlu harus bersuci, namun dianjurkan/disunnahkan untuk berwudhu saja.

Artinya di sini tidak ada nya kewajiban untuk membersihkan dubur dan kemaluan karena buang angin ketika bangun dari tidur. Sedangkan istinja dimaksudkan untuk menghilangkan najis. Sedangkan kedua hal tersebut tidak terdapat najis yang perlu dibersihkan.

Laranga dalam ber Etika buang air besar dan kecil

Larangan berbicara ketika buang air besar

Suatu perkara yang haq ketika di wajibkan seorang muslim/muslimah untuk mematuhi apa yang sudah diperintahkan oleh Allah swt. Salah satunya adalah ketika seseorang sedang berada dalam hajat (buang air besar). Diantaranya larangan tersebut yaitu menjawab salam dan adzan, atau berbincang-bincang di dalam WC, terkecuali mengandung keharusan untuk dilakukan.

Baca Juga:  10 macam macam najis

Semisal menunjukkan orang buta yang dikhawatirkan akan tergelincir karena lantai yang licin. Atau ketika sedang bersin, maka sebaiknya mengucapkan pujian kepada Allah swt cukup di dalam hati saja, tanpa harus diucapkan. Prilaku yang demikian juga sudah dicontohkan oleh Rosulullah saw.

Larangan dan anjuran untuk tidak menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang air besar

menurut Etika buang air besar dan kecil Yang demikian adalah merupakan sebuah bentuk penghormatan padanya (arah kiblat). Seperti yang sudah disampaikan oleh Nabi yaitu Jika salah satu diantara kalian duduk untuk buang air, maka tidak seharusnya ia menghadap atau membelakangi kiblat. Larangan tersebut ditujukan pada saat buang air ditempat terbuka,

dan diperbolehkan jika keberadaannya dalam bangunan. Namun yang demikian sebaiknya pada saat pembangunan memperhatikan arah kloset untuk tidak menghadap ke arah kiblat atau membelakanginya.

Benda yang tidak boleh digunakan untuk bersuci

Dalam hal ini Nabi melarang bersuci dengan menggunakan benda najis. Rosulullah memperingatkan , jika kotoran binatang yang telah kering tidak dapat mensucikan najis. Apabila dalam beristinja’ tetap menggunakan benda-benda yang dilarang, maka istinja’ seseorang tidak sah.

Ia diwajibkan untuk beristinjak kembali dengan menggunakan benda yang memang diperbolehkan dalam islam. Contoh benda-benda yang dilarang untuk digunakan dalam islam diantaranya : makanan, tulang belulang, kertas sobekan dari kitab. Karena hal yang demikian adalah bagian yang harus dihormati.

Baca Juga tentang : Pengertian agama secara umum